KRISIS GLOBAL & INVESTASI DI INDONESIA
0. Pendahuluan
Krisis global, yang dipicu oleh krisis subprime
mortgage sejak Juli 2007, telah menyebabkan krisis likuiditas dunia hingga
saat ini. Krisis likuiditas di negara-negara maju ini menyebabkan sumber pendanaan
untuk menggerakkan perekonomian berkurang, dan pada gilirannya akan menyebabkan
turunnya pertumbuhan ekonomi. Sebagai lanjutan dari krisis global tersebut, IMF (World Economic Outlook database), memperkirakan
pertumbuhan ekonomi advanced economies
akan turun dari 2.7% di tahun 2007 diestimasikan menjadi 1.0 % di tahun 2008,
dan diproyeksikan menjadi
-1.8% di tahun 2009.
Krisis likuiditas negara-negara maju ini menyebar (contagious) ke negara-negara berkembang (dan juga emerging market) melalui dua saluran
utama. Pertama, lambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju akan
menyebabkan ekspor negara-negara berkembang menjadi berkurang. Kedua, krisis
likuiditas negara-negara maju menyebabkan investor di negara-negara maju
menarik aliran dananya yang ditanamkan di negara-negara berkembang, atau
terjadi capital outflow di
negara-negara berkembang karena negara-negara maju kesulitan likuiditas.
Penularan krisis dari negara-negara maju tentunya menyebabkan pertumbuhan
ekonomi negara berkembang dan emerging economies
ikut turun. IMF (World Economic Outlook database), IMF (World Economic Outlook
database), memperkirakan pertumbuhan ekonomi emerging and developing economies akan turun dari 8.3% di tahun
2007 diestimasikan menjadi 6.3% di tahun 2008, dan diproyeksikan menjadi 3.3%
di tahun 2009.
Akibat krisis global ini tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak
terkena dampaknya, begitupun Indonesia. Indonesia diestimasikan akan mengalami
penurunan pertumbuhan pada tahun 2008 menjadi 6.2%, dibanding tahun 2007 (6.3%),
dan diproyeksikan akan mencapai pertumbuhan 5.0% di tahun 2009.
Akibat dari krisis global ini, maka andalan kedepan untuk mengejar
pertumbuhan ekonomi di tahun 2009 adalah dari sisi permintaan dalam negeri. Salah
satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan dalam negari
adalah mendorong investasi. Investasi yang diestimasikan akan tumbuh 12.4% di
tahun 2008, diproyeksikan hanya akan tumbuh 7.5% di tahun 2009.
Untuk mendorong investasi ini, pemerintah berupaya melakukan kebijakan
moneter dan fiskal. Pemerintah telah mulai menurunkan suku bunga. Suku bunga
sudah diturunkan sejak November 2008 dari 9.5% hingga mencapai 8.75% di bulan
Januari 2009. Pemerintah telah membuat paket stimulus fiskal dalam upaya
mendorong investasi, antara lain: memberikan stimulus fiskal dalam upaya
meningkatkan daya beli masyarakat dan memberikan potongan pajak.
Berdasarkan fakta diatas, tulisan ini akan mendiskusikan beberapa hal
terkait investasi di Indonesia. Pertama, proses penularan krisis global ke
Indonesia dan dampaknya terhadap investasi. Kedua, langkah-langkah pemerintah
dalam upaya mendorong investasi, dan kemungkinan dampaknya. Ketiga,
prospek investasi untuk lima tahun ke
depan ( 2010-2014).
1. Penularan Krisis
Terdapat dua saluran proses penularan krisis, yaitu melalui saluran
perdagangan internasional dan aliran modal.
Turunnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju akan menyebabkan pasar
ekspor negara-negara berkembang berkurang. Tabel 1 memperlihatkan pertumbuhan
ekonomi negara-negara maju (advanced
countries), yang merupakan pasar ekspor negara-negara berkembang,
diestimasikan hanya akan tumbuh 1.0% di tahun ditahun 2008, lebih rendah
dibanding pertumbuhan tahun 2007, yaitu 2.7%, dan diestimasikan akan mengalami
pertumbuhan negatif ditahun 2009, yaitu -1.8%.
Dewasa ini pasar ekspor dunia sudah mulai terdiversifikasi ke China. Namun,
China juga akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, sehingga pasar
ekspor negara-negara berkembang juga akan turun di China. Tabel 1
memperlihatkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2008 lebih rendah, yaitu 9.0%
dibanding tahun 2007 (13.0%), di tahun 2009 diproyeksikan pertumbuhan ekonomi
hanya 6,7%.
Berdasarkan Tabel 1, perlambatan ekonomi dunia ini menyebabkan ekspor emerging and developing economies
diekspektasikan tumbuh lebih rendah, yaitu 5.6% di tahun 2008, dibandingkan 9.6%
di tahun 2007, dan diproyeksikan akan tumbuh negatif di tahun 2009, yaitu -0.8%.
Demikian juga
dengan Indonesia ,
yang memperlihatkan kecenderungan menurun pada beberapa bulan terakhir 2008.
Grafik 1 memperlihatkan ekspor nonmigas Indonesia memperlihatkan
kecenderungan menurun pada bulan Oktober dan November, dan diperkirakan akan
menurun pada bulan-bulan berikutnya. Grafik ini memperlihatkan bahwa dampak krisis
global telah ditunjukkan dengan turunnya nilai ekspor nonmigas Indonesia
pada beberapa bulan terakhir 2008.
Krisis subprime mortgage sejak pertengahan Juli
2007 telah menyebabkan krisis likuiditas di Amerika Serikat dan negara-negara
maju lainnya. Krisis likuiditas ini menyebabkan penurunan capital inflow ke negara-negara berkembang dan emerging countries. Tabel 2 memperlihatkan berkurangnya aliran
modal ke negara-negara berkembang, yaitu
dari US$ 2,017.0 Billion di tahun 2007 turun (angka estimasi) menjadi US$ 1,344.3
Billion di tahun 2008, dan diproyeksikan
turun lagi menjadi US$ 1,293.6 di tahun 2009.
Tabel 1: Pertumbuhan Ekonomi
& Perdagangan Dunia
|
2007
|
2008
(est.)
|
2009
(proj.)
|
2010
(proj.)
|
Pertumbuhan Ekonomi
World Output
Advanced Economies
United Status
Euro Area
Emerging and
developing economies
|
5.2
2.7
2.0
2.6
8.3
|
3.4
1.0
1.1
1.0
6.3
|
0.6
-1.8
-1.6
-2.0
3.3
|
3.0
1.2
1.6
0.2
5.0
|
Pertumbuhan Ekonomi
Japan
China
India
Emerging Asia (excl. China & India)
|
2.4
13.0
9.3
6.0
|
-0.3
9.0
7.3
3.7
|
-2.6
6.7
5.1
-0.7
|
0.8
8.0
6.5
3.6
|
Volume Perdagangan
Imports
Advanced economies
Emerging and developing economies
Exports
Advanced economies
Emerging and developing economies
|
7.2
4.5
14.5
5.9
9.6
|
4.1
1.5
10.4
3.1
5.6
|
-2.8
-3.1
-2.2
-3.7
-0.8
|
3.2
1.9
5.8
2.1
5.4
|
Sumber: IMF, World Economic Outlook (2009)
Grafik 1: Perkembangan Ekspor Non Migas 2008

Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)
Tabel 2: Aliran Modal Netto Negara Berkembang dan
Emerging Market
(Billion US dollar)

Sumber: IMF, World Economic Outlook (2008)
Dampak krisis likuiditas global ini juga terjadi di Indonesia. Tabel 3
memperlihatkan terjadi capital outflow
(estimasi) tahun 2008 sebesar US$2.5 Miliar, dan diproyeksikan pada tahun 2009
sebesar –US$2.1 Miliar.
Untuk aliran modal jangka panjang (foreign
direct investment, FDI) masuk berkurang pada tahun 2008, yaitu US$6.7
Miliar, dibandingkan tahun 2007 (US$6.9 Miliar), dan diproyeksikan turun lagi
menjadi menjadi US$5.9 Miliar di tahun 2009.
Untuk aliran modal jangka pendek (portfolio
investment) masuk berkurang pada tahun 2008, yaitu US$3.0 Miliar, dibanding
tahun 2007 (US$10.0 Miliar), dan diproyeksikan sedikit naik lagi menjadi US$4.5
miliar. Tambahan pula, untuk aliran jangka pendek lainnya, pada tahun 2007
telah terjadi pembalikan aliran masuk sebesar –US$0.3 miliar.
Tabel 4: Perkiraan Neraca
Pembayaran, 2010-2014

Sumber: BI (2009)
2. Dampak Terhadap Investasi
Salah satu komponen penggerak investasi adalah PMA. Krisis global
menyebabkan likuiditas dana negara-negara berkembang semakin menyusut.
Menyusutnya dana tersebut, menyebabkan negara-negara maju berupaya menarik
investasinya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Tabel 3
memperlihatkan FDI yang masuk ke Indonesia berkeurang di tahun 2008, yaitu
US$6.7 Miliar, nilai ini lebih rendah dibanding tahun 2007 (US$6.9 Miliar). PMA
masuk kembali diproyeksikan lagi akan menyusut di tahun 2009 menjadi US$ 5.9
Miliar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terjadinya krisis global
menyebabkan investasi di Indonesia akan menyusut di tahun 2008 dan 2009
dikarenakan berkurangnya PMA yang masuk ke Indonesia.
Salah satu sumber dana perusahaan adalah dana yang berasal dari pasar
modal, yaitu saham dan obligasi. Adanya krisis global menyebabkan aliran dana
jangka pendek (short term capital inflow)
menjadi berkurang ke negara-negara maju, termasuk Indonesia. Tabel 3
memperlihatkan aliran modal jangka pendek (termasuk saham dan obligasi) yang
masuk ke Indonesia berkurang di tahun 2008, yaitu US$3.0 Miliar, dibanding
tahun 2007 (US$10.0 Miliar).
Namun demikian, dampak global melalui saluran aliran modal jangka pendek
ini tidak terlalu besar dampaknya bagi investasi secara keseluruhan. Hal ini
disebabkan karena sumber dana keuangan yang berasal dari non-bank (saham dan
obligasi) hanya memberikan kontribusi
yang kecil terhadap pendanaan investasi.
Grafik 2, yang berasal dari data neraca arus dana, memperlihatkan selama kurun
waktu 2001-2006 peranan lembaga perbankan berkisar antara 2.04% di tahun 2003
dan 0.35% di tahun 2006, sementara itu, kontribusi lembaga keuangan non-bank
persentasenya lebih kecil yaitu rata rata kurang dari 1%.
Grafik 2: Sumber Dana Bank
dan Lembaga Keuangan Non-Bank

Sumber: Neraca Arus Dana,
BPS(2006)
Dampak aliran modal adalah dampak langsung dari krisis modal terhadap
investasi. Terdapat juga dampak tidak langsungnya. Adanya penurunan pertumbuhan
ekonomi global menyebabkan dua hal (i) pasar ekspor negara-negara berkembang
turun, dan (ii) turunnya berbagai barang ekspor di pasar dunia, lihat Grafik 3.
Turunnya pangsa pasar ekspor dan turunnya harga barang ekspor menyebabkan
keinginan investor melakukan investasi berkurang, karena rendahnya harga ini
menyebabkan investor berkurang hasrat untuk melakukan investasi, karena
keuntungan yang didapatkan akan sangat rendah dikarenakan rendahnya harga
barang ekspor.
Grafik 3: Commodity Price Indices and Average
Petroleum Spot Prices


Sumber: IMF, WEO (2008)
Adanya ekspektasi rendahnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri ini
menyebabkan likuiditas kredit perbankan dalam negeri diperkirakan akan
berkurang karena kepercayaan perbankan untuk mengucurkan kredit menjadi rendah
(credit rationing). Tentunya
rendahnya persetujuan kredit ini akan berakibat turunnya investasi. Grafik 4
memperlihatkan akibat ekspektasi rendah terhadap perekonomian dalam negeri
selama 2008 maka tingkat persetujuan kredit modal kerja selama 2008 turun sejak
bulan 2008.
Grafik 4: Persetujuan Kredit
Modal Kerja 2008

Sumber:
Bank Indonesia (2008)
Terjadinya krisis global ditandai dengan turunnya indeks saham dan
depresiasi mata uang domestik terhadap nilai tukar, baik di negara-negara maju
maupun negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Indonesia pada tahun 1997
pernah mengalami masa nilai tukar rupiah terdepresiasi tajam, dimana depresiasi
ini telah menyebabkan krisis kepercayaan, krisis ekonomi, dan sosial politik,
sehingga depresiasi rupiah yang tajam merupakan hal yang harus dihindari.
Salah satu cara untuk menghindari depresiasi rupiah ini adalah dengan
menaikkan suku bunga. Namun, kenaikan suku bunga akan berakibat terjadinya
penurunan investasi. Dengan demikian Indonesia—sebagai negara yang pernah
mengalami krisis kepercayaan akibat terjadinya depresiasi rupiah yang
tajam—selalu mengahadapi dilema bila menghadapi depresiasi rupiah, di satu
pihak harus menaikkan suku bunga bila ingin menahan depresiasi rupiah yang
tajam, dilain pihak harus menurunkan suku bunga bila ingin mendorong investasi,
yang terpuruk diakibatkan krisis global.
Menghadapi kondisi dilema seperti ini maka yang seharusnya dilakukan
pemerintah adalah menunggu ketenangan gejolak ekonomi dunia, terutama gejolak
harga saham dunia, seperti Indeks Dow Jones, Hang Seng, Nikkei dan lainnya.
Bila gejolak saham sudah mulai tenang, ini artinya bila pemerintah dapat menurunkan
suku bunga, maka nilai tukar tidak akan terdepresiasi tajam.
Untuk menurunkan suku bunga ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu (i)
ketenangan ekonomi dunia, dalam hal ini gejolak saham dunia, dan (ii) inflasi
dalam negeri, artinya ekspektasi inflasi ke depan juga akan rendah, dengan
rendahnya inflasi ini maka diperkirakan masih terdapat margin keuntungan antara
suku bunga riil dan suku bunga nominal.
Berdasarkan Grafik 5 dan Grafik 6 terlihat ketika Global Stock Market
Indices telah mulai membaik pada bulan November dan Desember 2008, dan inflasi
juga telah mulai menurun pada bulan November dan Desember 2008, maka BI telah
mulai menurunkan suku bunga pada bulan Desember 2008. Hal ini memperlihatkan
bahwa dengan menurunnya suku bunga diharapkan investasi akan meningkat pada
tahun 2009, dan tahun-tahun berikutnya.
Grafik 5: Saham Dunia

Sumber:
Grafik 6: Inflasi dan Suku
Bunga Indonesia

Sumber: BI (2008)
3. Kebijakan Pemerintah
Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa salah satu kebijakan pemerintah
adalah menurunkan suku bunga agar supaya permintaan dalam negeri, melalui
kenaikan investasi, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, yang dilakukan antara
lain, pada bulan January 2009, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga
hingga mencapai 8,75% pada saat tingkat inflasi sudah mulai turun.
Pada bagian ini kita menguraikan kebijakan pemerintah yang penting lainnya,
untuk mendorong investasi, yaitu kebijakan fiskal, antara lain (i) mempercepat
penyerapan proyek-proyek pemerintah dan BUMN (ii) menerapkan stimulus fiskal
dan menyediakan stimulus fiskal tambahan untuk dunia bisis dan proyek-proyek infrastruktur
(iii) mendorong sektor real dan mempromosikan ekspor, misalnya garansi
pemerintah untuk fasilitas trade
financing, dan (iv) menurunkan harga BBM, menerapkan mekanisme penyesuaian
harga BBM bila terjadi perubahan harga minyak dunia, dan memberikan insentif
dengan menurunkan harga minyak solar untuk dunia usaha dalam rangka mengurangi
biaya perusahaan dalam menjalankan operasinya.
Terkait dengan upaya melakukan stimulus fiskal, pemerintah berupaya
mempertahankan kesimbambungan fiskal pada tahun 2009, dengan cara melakukan
pemindahan kebijakan dari kebijakan fiskal yang defensif menuju pada kebijakan
fiskal yang ofensif, seperti terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4: From Defensive Measures to Offensive Measures

Sumber: Departemen Keuangan (2009)
Untuk
mengantisipasi krisis global, tahun 2009 pemerintah juga melakukan stimulus
fiskal, yang ditujukan untuk tiga sasaran.
Pertama, meningkatkan
penyerapan tenaga kerja dan mempercepat pertumbuhan usaha kecil dan menengah,
yang dilakukam dengan pembangunan infrastruktur, antara lain: (i) mengurangi
kemiskinan dengan memperkuat dan mempercepat
program PNPM (ii) mempercepat kredit program (KUR) untuk mendorong
pembangunan sektor primer (iii) menambah proyek-proyek infrastruktur dalam
upaya untuk menciptakan tenaga kerja tambahan.
Kedua, mendorong
daya beli masyarakat yang dilakukan dengan (i) mensubsidi harga obat dan minyak
goreng (ii) mensubsidi langsung untuk
masyarakat pendapatan rendah dengan cara memberikan cash transfer dan conditional
cash transfer (iii) menyediakan subsidi langsung dan tidak langsung bagi
sektor pendidikan dan kesehatan.
Ketiga, menstmulasi
perdagangan dan mempromosikan kewiraswastaan, yang dilakukan dengan (i) memberikan
fasilitas import duty untuk impor
barang modal terpilih (ii) memberikan garansi untuk export financing (iii) pengurangan pajak untuk pendapatan
perusahaan dan pendapatan individu, dan menaikkan batas minimum untuk pajak
tenaga kerja (iv) mengurang biaya beban listrik untuk masa peak-hour untuk sektor industri dan pengurangan harga minyak disel.
4. Proyeksi Investasi 2010-2014
Dengan adanya
krisis global, proyeksi pemerintah untuk 2009, dalam buku Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) sebesar 13.1%, diturunkan menjadi 7.5%. Angka 7.5% ini telah
mengakomodasi upaya-upaya memerintah yang dilakukan terkait dengan kebijakan
fiskal dan moneter dalam upaya mendorong investasi, seperti halnya didiskusikan
pada sebelumnya. Asumsi lainnya adalah likuiditas luar negeri sangat terbatas,
sehingga angka investasi ini hanya mengandalkan permintaan dalam negeri.
Bank Dunia
(2009) memperkirakan krisis global akan berbentuk U shape, artinya proses recovery dunia membutuhkan waktu yang
cukup panjang. Kami memperkirakan membutuhkan waktu dua tahun ke depan, yaitu
2010 dan 2011. Angka pertumbuhan investasi masih mengandalkan permintaan dalam
negeri dalam dua tahun tersebut, dengan pertumbuhan investasi diperkirakan 8.1%
dan 8.7%.
Setelah dua
tahun mengalami proses recovery,
pertumbuhan investasi kembali mulai tinggi pada tahun 2012-1014, yaitu 10.1%,
10.5% dan 11.1%. Kenaikan
investasi ini sejalan dengan krisis global telah pulih sejak tahun 2012. Pulihnya
ekonomi global ini dapat dilihat pada Tabel 3 Neraca Pembayaran.
PMA naik dari US$3.2 Miliar di tahun
2011, hingga mencapai US$5.3 Miliar di tahun 2012, dan naik lagi menjadi US$6.6
Miliar di tahun 2013 dan US$7.5 Miliar di tahun 2014. Investasi Portopolio naik
dari US$2.0 Miliar di tahun 2011, hingga mencapai US$3.5 Miliar di tahun 2012,
dan naik lagi menjadi US$5.0 Miliar di tahun 2013 dan US$6.2 Miliar di tahun
2014. Investasi Lainnya naik dari -US$0.5 Miliar di tahun 2011, hingga mencapai US$0.6 Miliar di tahun 2012, dan
naik lagi menjadi US$1.3 Miliar di tahun 2013 dan US$2.3 Miliar di tahun 2014.
Berdasarkan pertumbuhan investasi diatas, maka kebutuhan investasi nasional
selama lima tahun kedepan adalah Rp 10.042 Triliun, dengan kebutuhan investasi
masing- masing untuk tahun 2010, 2011, 2012, 2013 dan 2014 adalah Rp 1.547,7 Triliun;
Rp1.743,4 Triliun; Rp1.975,8 Triliun; Rp2.239,1 Triiun; dan Rp2.536,0 Triliun.
Tabel 5: Proyeksi
Pertumbuhan 2010-2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar